AURORA (Cahaya di Langit Utara)
Cahaya itu terlihat indah dan
menakutkan di saat yang bersamaan. Ia meliuk, bergerak bagaikan sedang menari.
Gerakan dan warnanya menghipnotis mata orang yang memandangnya. Satu warna
dengan yang lainnya saling bersinggungan, namun tidak berbaur. Dan warna hijau
terlihat lebih dominan di langit Tromso ini.
Freya mendongak dan menatap takjub.
Ini adalah yang diimpikannya sejak kecil. Ibunya yang menanamkan rasa cinta
Freya pada Aurora.
Ketika Freya mengatakan ingin melihat
cahaya itu secara langsung, ibunya tersenyum lembut dan berkata, "Kalau
begitu Freya harus menabung, sayang."
Freya dulu tidak mengerti untuk apa
ia harus menabung hanya untuk melihat cahaya berwarna-warni di langit. Bukankah
cahaya itu diciptakan Tuhan agar keindahannya bisa dinikmati oleh manusia
secara cuma-cuma?
Lalu ibunya menjelaskan bahwa Aurora
hanya terlihat di langit utara atau selatan bumi, di daerah dekat dengan kutub.
Untuk itu Freya perlu menabung agar dapat mengunjungi negara terdekat dengan
kutub.
Sejak mengenal Aurora di usianya yang
ke sepuluh, Freya menyisihkan uang sakunya untuk ditabung. Di usia lima belas
tahun, Freya memutuskan bahwa negara yang ingin ia tuju untuk melihat Aurora
adalah Norwegia.
Bukan tanpa alasan Freya memilih
Norwegia. Ibunya pernah bercerita tentang arti dari namanya, Freya. Eropa utara
yang juga orang sebut dengan nama Skandinavia, terkenal dengan mitologi Nordik,
dimana mereka menganggap Freya sebagai sesosok dewi cinta nan cantik jelita
yang menghuni Asgard bersama dengan dewa-dewi lain seperti Odin, Frigg, Balder,
Loki ataupun Thor.
Karena pengaruh nama itulah Freya
merasa memiliki kedekatan emosional dengan Eropa utara, terutama Norwegia.
Setelah bertahun-tahun menabung,
akhirnya Freya merasa uangnya sudah cukup untuk membawanya berburu Aurora.
Freya mulai merancang perjalanannya ke negeri orang-orang Viking tersebut.
Freya mencari tahu tentang apa saja
yang ia perlukan untuk bisa sampai kesana. Dia melakukan riset tentang waktu
terbaik untuk melihat Aurora, tentang pengurusan visa; penerbangan dan
transportasi yang harus dia ambil untuk bisa sampai ke Tromso, kota di Norwegia
yang paling populer untuk melihat Aurora; lalu tempat dimana dia bisa bermalam
selama di sana; termasuk tentang makanan apa saja yang bisa ia cicipi di negara
itu.
Setelah berminggu-minggu mencari
informasi mendetail untuk petualangannya, tiba saat dimana Freya akan
mewujudkan salah satu mimpinya sedari kecil. Mimpi yang muncul karena
kecintaannya pada cerita ibunya dan pada gambar Aurora Borealis yang mempesona
di buku Ensiklopedia Alam milik sang ibu.
* * *
Freya menginjakkan kaki di bandara
Gardermoen, kota Oslo, saat jam menunjuk pukul sepuluh pagi waktu setempat.
Meski lelah, tapi senyuman bahagia tidak bisa lepas dari wajahnya. Ia hirup
dalam-dalam udara Norwegia memenuhi paru-parunya, seolah-olah oksigen Norwegia
sama sekali berbeda dengan di Indonesia.
Setelah ini ia akan langsung
melanjutkan perjalanan ke Tromso dengan menggunakan penerbangan domestik.
Pesawatnya akan lepas landas tiga jam dari sekarang. Freya punya cukup banyak
waktu untuk beristirahat sebentar setelah melakukan perjalanan panjang selama
hampir tujuh belas jam.
Sembari menunggu jadwal
penerbangannya, ia memilih untuk mengisi perut di salah satu restoran di bandara.
Memesan secangkir cokelat panas dan makanan yang terlihat menggiurkan di daftar
menu meskipun Freya tidak tahu nama dari makanan yang akan segera dicerna dalam
perutnya itu.
Selesai makan, ia duduk di lounge bandara,
menunggu selama lebih dari dua jam hingga akhirnya pihak bandara mengumumkan
bahwa pesawat yang akan membawanya ke bagian utara Norwegia itu akan segera
lepas landas.
Di dalam pesawat, Freya mengecek smartphone
miliknya dan membuka kembali email dari biro wisata lokal kota Tromso yang ia
terima beberapa hari lalu.
Email itu menyertakan
lampiran-lampiran file berisi jadwal penerbangan untuknya dari
Oslo-Tromso-Oslo, nama dan alamat hotel tempatnya akan menginap, agenda
kegiatan dan tempat-tempat wisata di Tromso yang biro itu anggap akan membuat
Freya tertarik, lalu ada jadwal penjemputan oleh pemandu wisatanya. Tak lupa
email itu menyertakan nomor telepon dan alamat kantor biro wisata dan juga
nomor telepon darurat yang bisa ia hubungi jika ada keadaan mendesak.
Lebih kurang dua jam perjalanan Freya
habiskan di atas pesawat sebelum akhirnya Scandinavian
Airlines yang ditumpanginya mendarat di bandara Langnes, Kota Tromso.
Udara di Tromso lebih dingin dari
ibukota Norwegia, Oslo. Itu karena Tromso terletak di daerah lingkar Arktik. Freya
mengeratkan jaket yang ia kenakan saat angin yang membawa hawa dingin menerpa
tubuhnya.
Begitu melangkahkan kaki ke luar
bandara, indera penglihatan Freya seketika disapa oleh baliho-baliho yang
kebanyakan menampilkan gambar Aurora Borealis sebagai daya tarik utama wisata
kota tersebut.
Hanya melihat gambar di baliho saja,
perasaan bahagia membuncah dalam diri Freya. Rasanya sangat tidak sabar untuk
melihat cahaya langit utara secara langsung.
Freya bergegas masuk ke dalam taksi.
Setelah menyebutkan nama sebuah hotel pada sang supir, maka mobil pun
dilajukan, membawa Freya ke tempat yang sebelumnya sudah dipesankan atas
namanya oleh biro penyedia jasa wisata yang Freya sewa selama ia berada di
Tromso.
Menurut jadwal, pemandu wisata baru
akan menjemputnya di hotel besok pagi untuk mengajaknya berkeliling mengunjungi
tempat-tempat wisata terkenal di Tromso.
Sebenarnya satu-satunya hal yang
membuat Freya tertarik hanyalah Aurora, namun karena dia sudah terlanjur berada
di Tromso, dia pikir tidak ada salahnya jika dia memanjakan matanya dengan
tempat dan hal indah lainnya di sana.
Setibanya di kamar hotel, Freya
memutuskan untuk mandi air hangat agar badannya yang lelah setelah mengalami
perjalanan jauh selama berjam-jam, terasa lebih santai dan hangat.
Seusai membersihkan diri, begitu
tubuhnya menyentuh kasur kamar hotel yang lembut, Freya tak kuasa lagi menahan
kantuk yang mendera. Matanya terpejam, perlahan kesadarannya hilang, dan ia pun
terlelap menuju alam mimpi.
Ini adalah malam pertama di kota
Tromso. Pertengahan bulan Oktober, awal musim dingin di Norwegia.
* * *
Freya terbangun ketika alarmnya
berbunyi pukul tujuh pagi. Pemandu wisatanya akan datang pukul delapan, jadi
Freya punya waktu sekitar satu jam untuk bersiap-siap dan sarapan di restoran
hotel.
Freya memilih secangkir kopi panas
dan French Toast untuk sarapannya. Tepat sebelum suapan terakhir roti
itu berakhir di mulutnya, Freya menerima sebuah email dari biro wisata.
Memberitahu bahwa pemandu wisatanya sedang menunggu di lobi hotel.
Freya membalas email itu dan dengan
terburu-buru ia menyeruput kopinya, kemudian segera beranjak menuju lobi.
Freya tidak tahu seperti apa wajah
dari pemandu wisatanya itu, jadi yang bisa ia lakukan hanya celingukan.
Mencari-cari orang yang tidak dikenalnya. Orang dari biro wisata hanya
memberitahukan namanya saja, tanpa menyebut ciri fisik.
Tebersit sebuah ide di kepala Freya
untuk meneriakkan nama Morten Stevenssen, pemandu wisatanya. Tapi rasa malu
membuat Freya mengurungkan niatnya.
Pandangan Freya kemudian jatuh pada
sosok pria yang sedang berbincang dengan gadis resepsionis hotel. Entah
bagaimana, Freya merasa yakin bahwa pria itulah pemandu wisatanya. Jadi ia pun
berjalan mendekat ke arah mereka.
Setelah cukup dekat, Freya
menyapanya. "Excuse me. Are you Mr. Morten Stevenssen?"
Mendengar seseorang berbicara padanya
dalam bahasa selain Bahasa Norwegia, pria itu langsung menoleh ke arah Freya.
"Ah, you must be Miss
Freya!" Serunya senang. Wajahnya tersenyum
lebar, dan Freya bisa melihat lesung menghiasi kedua pipinya.
Freya mengangguk dan tersenyum. Kini
setelah mereka berdiri berhadapan, Freya bisa mengira tinggi dari pria itu.
Setidaknya dia seratus delapan puluh sentimeter. Wajahnya tampan dan terlihat
ramah. Rambutnya berwarna pirang keemasan. Matanya berwarna coklat hazel.
Kenapa pemandu wisataku sangat
tampan dan menarik!? teriak Freya dalam hati.
Mengabaikan debaran yang ia rasakan
di jantungnya, Freya mencoba bersikap normal. "Yes i am. Can we go
now?"
"Absolutely, miss. Come on,
i'll take you to many places in Tromso!"
Saat ini Tromso mulai memasuki awal
musim dingin. Meskipun salju sudah mulai turun, namun udara belum begitu
dingin. Setidaknya tidak sedingin yang Freya bayangkan dari awal.
Jalanan belum tertutup salju seperti
yang biasanya terjadi di puncak musim dingin. Pemandangan indah Tromso yang
dikelilingi fjord, gunung dan pulau masih bisa terlihat dengan jelas.
Mereka pergi ke beberapa tempat,
termasuk ke sebuah katedral yang menjadi landmark kota Tromso. Bangunan dengan
arsitektur berbentuk segitiga yang interiornya didominasi oleh kaca-kaca
mozaik.
Morten adalah orang yang sangat
pandai bercerita. Dia mengenal seluk-beluk kota Tromso dengan begitu mendetail
dan terperinci. Segala keindahannya. Sejarahnya. Tragedinya. Dia merangkai kalimat-kalimatnya
dengan begitu bagus dan menjadi layak untuk diperdengarkan, bahkan meskipun apa
yang diceritakan merupakan sisi buruk Tromso.
Bahasa Inggris Morten sangat bagus
dan aksen Eropa Utaranya tidak begitu kental terdengar. Itu membuat Freya heran
dimana dia mempelajarinya. Karena itu Freya pun bertanya.
Morten tertawa dengan pertanyaan yang
diajukan Freya. Dia bilang, baru sekali ini dia memandu wisatawan yang lebih
takjub dengan pengucapan Bahasa Inggrisnya dibandingkan ceritanya tentang
Tromso.
Meskipun begitu Morten tetap menjawab
pertanyaan Freya. Morten bercerita pada Freya bahwa sebelum bekerja di biro
wisata lokal kota ini, ia pernah bekerja di Manchester, Inggris, selama hampir
dua tahun sebagai asisten koki.
Morten adalah lulusan sekolah
pariwisata dan pernah mengambil kelas memasak selama satu tahun sebelum
akhirnya memutuskan untuk merantau ke negara lain dan bekerja di sana.
Setelah dari Manchester, dia pindah
ke Perancis dan beralih profesi. Bekerja untuk kantor biro wisata di kota
Paris. Tapi di Perancis, Morten hanya sanggup bertahan selama tujuh bulan. Ia
pun kembali pulang ke Norwegia dan akhurnya menjadi pemandu wisata di kampung
halamannya, Tromso.
Hal lain yang Freya sukai dari sosok
pemandu wisatanya ini adalah sikapnya yang sopan dan berhati-hati dalam hal
kontak fisik. Morten mengatakan bahwa ia mempelajari kebudayaan orang-orang
Timur.
Selain kebudayaan negara Asia Timur
seperti Tiongkok, Korea dan Jepang, Morten juga mempelajari beberapa budaya
Asia Tenggara, Asia Selatan, Asia Barat, bahkan budaya negara-negara
semenanjung Arab.
Dari mempelajari kultur budaya
berbagai negara itulah, Morten tahu bagaimana cara memperlakukan wisatawan
asing yang dipandunya dengan baik tanpa melewati batas norma dan nilai dari
negara asal sang wisatawan asing.
Dia pria yang sangat cerdas kalau
boleh Freya menyebutnya. Dan dia teman mengobrol yang luar biasa. Ini pertama
kalinya mereka bertemu, tapi rasanya seperti teman lama yang sudah saling
mengenal bertahun-tahun. Karena keakraban yang terjalin dengan cepat itulah
mereka memutuskan untuk saling memanggil nama secara informal.
Menjelang sore hari, Morten
membawanya berkendara ke Sommaroy, sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah
barat Tromso. Desa nelayan yang terkenal dengan pantai pasir putih dan
pemandangannya yang indah. Sommaroy lebih terpencil dan tenang, kemungkinan
untuk dapat melihat Aurora Borealis dengan jelas semakin besar di sana.
Di dalam mobil, selama perjalanan,
Morten kembali menceritakan banyak hal. Kali ini lebih banyak seputar Aurora.
"Apa kau tahu bahwa orang-orang
Eskimo di Alaska menganggap bahwa cahaya Aurora adalah arwah dari binatang
buruan mereka yang telah mati." Morten mengatakannya dalam Bahasa Inggris.
Freya mengangguk pelan, "Ibuku
pernah bercerita."
"Jadi ibumu tahu hal semacam
itu?" Morten terdengar takjub.
"Ibuku pencerita yang hebat
sepertimu, Morten. Dan dia tahu banyak hal. Ibuku juga yang membuatku jatuh
cinta pada Aurora."
"Wah. Beruntung dia membuatmu
jatuh cinta pada Aurora. Jadi kau bisa berada disini sekarang." Morten
mengatakannya dengan tulus. Dia senang bisa bertemu dengan gadis cerdas dan
menyenangkan seperti Freya.
Tidak semua wisatawan asing bisa
memiliki sikap bersahabat. Terkadang mereka bahkan menganggap bahwa diri mereka
bagaikan raja, sedang pemandu wisata hanyalah orang bayaran yang harus mau
menuruti apapun keinginan mereka.
Contohnya saja saat wisatawan itu
datang ke Tromso untuk melihat Aurora, maka malam itu juga mereka menuntut
untuk bisa melihat cahaya langit utara yang jelas dan cantik. Mereka tidak
memikirkan bahwa untuk melihat Aurora tidak bisa dilakukan begitu saja sesuai
keinginan mereka.
Ada faktor-faktor tertentu yang
mempengaruhi munculnya Aurora. Seperti keadaan langit di malam hari yang cerah,
lalu adanya Solar Wind (Angin Matahari) yang melepas partikel dan
berinteraksi dengan daerah magnetik bumi. Karena itu, kemunculan Aurora
terkadang tidak bisa diprediksi.
Bahkan meskipun sudah ada alat dan
aplikasi yang bisa digunakan untuk memperkirakan munculnya dan mengukur
kuat-lemahnya intensitas Aurora, tetap saja alat itu tidak akan berguna jika
langit tertutup awan mendung.
Tapi sayangnya, ada beberapa
wisatawan yang seolah tidak peduli dengan itu semua. Saat mereka menginginkan
Aurora untuk muncul, maka artinya detik itu juga Aurora harus muncul di hadapan
mereka.
Saat semua tidak berjalan sesuai
ekspetasi mereka, mereka akan mulai mengajukan komplain pada biro wisata dengan
mengatakan bahwa pelayanan agen sangat payah dan tidak bisa dipercaya.
Bahkan Morten mengatakan dia pernah
ditampar oleh seorang wanita dari Amerika Tengah karena setelah tiga hari
berada di Tromso, dia masih tidak bisa melihat Aurora Borealis. Itu membuat si
wanita Latin menjadi marah dan bersikap kasar. Freya merasa iba mendengar itu.
Dia memberikan dukungan dan kata-kata penyemangat untuk Morten.
Setelah berkendara selama dua jam
lebih, mereka akhirnya tiba di Sommaroy ketika langit sudah berubah gelap.
Freya melihat jam tangannya. Pukul tujuh lewat tiga belas malam.
Morten menghentikan mobil mereka di
sebuah tanah kosong yang cukup luas, agak menjorok dari tepi jalan. Ada lima
mobil lain yang terlihat di sana.
Sepertinya ini salah satu spot
favorit bagi orang-orang yang ingin berburu Aurora sama seperti dirinya.
Freya keluar dari mobil dan melihat
pemandangan Sommaroy yang terpampang di hadapannya. Deburan ombak terdengar
jelas di telinganya. Sommaroy masih terlihat indah meskipun kini diselimuti
gelap malam.
"Langit hari ini sangat cerah.
Dan menurut aplikasi, Aurora akan terlihat sekitar pukul delapan malam. Sebelum
itu kita bisa makan malam dulu. Ayo, aku tahu restoran seafood yang sangat enak
disini," ajak Morten.
"Kita akan berjalan kaki
kesana?" tanya Freya.
Morten tertawa. "Restorannya
tidak begitu jauh. Lagipula aku harus meninggalkan mobil disini agar kita punya
tempat yang bagus untuk melihat Aurora nanti. Kemungkinan masih akan ada mobil
lain yang datang."
Morten mulai berjalan, dan Freya
mengikuti di belakangnya.
Bagi Morten, jarak hampir satu
kilometer itu dekat, tapi bagi Freya yang jarang berolahraga dan berjalan kaki,
ini benar-benar melelahkan.
Beruntung makanannya benar-benar
lezat, tepat seperti yang Morten katakan. Jadi setidaknya rasa letih karena
berjalan jauh terbayar lunas dengan nikmatnya makanan laut di restoran ini.
Dalam perjalanan kembali ke tempat
Morten memarkirkan mobil, mata Freya menangkap cahaya kehijauan yang samar di
atas langit.
"Morten, apa itu Aurora?"
tanyanya takjub.
Morten melihat hal sama seperti yang
dilihat Freya. "Ya, itu cahaya langit utara."
"Tunggu lima sampai sepuluh
menit dulu, biasanya cahayanya akan lebih terbentuk," imbuhnya.
Hanya melihat sekelebat cahaya
tipisnya saja, Freya sudah lupa sesaat caranya untuk bernapas. Bagaimana jika
cahaya itu lebih jelas dan berwarna-warni?
"Ayo kita segera kembali ke
tempat mobil kita berada. Di sana kita bisa melihat Aurora dengan lebih puas
sambil duduk di atas kap mobil."
Freya yang masih terpana karena
cahaya samar Aurora, tidak sadar Morten kini telah menarik tangannya, bermaksud
mengajaknya lari. Seketika ia tersentak, kemudian menemukan kesadarannya
kembali. Ia pun bergegas cepat mengikuti langkah si pemandu wisata.
Mereka berlari dengan cepat. Butuh
waktu sekitar enam menit untuk sampai ke tempat mereka semula.
Freya mengatur napasnya yang
tersenggal setelah berlarian bersama Morten tadi. Ia menunduk, kedua
tangannya bertumpu pada lutut.
"Lihat Freya!" seru Morten.
Freya mendongak.
Cahaya itu meliuk-liuk, bergerak
bagaikan sedang menari di atas laut. Gerakan dan warnanya menghipnotis mata
orang yang memandang. Satu warna dengan yang lainnya saling bersinggungan,
namun tidak berbaur.
Setidaknya Freya melihat tiga warna
sekarang. Merah, ungu dan hijau. Dan warna hijau jelas lebih mendominasi di
langit Sommaroy, Tromso ini.
Freya tersenyum bahagia. Satu
impiannya sejak kecil kini telah terwujud. Impian sama yang dimiliki sang ibu.
Aku berhasil melihatnya secara
langsung, ibu. Cahaya langit yang sama-sama membuat kita jatuh cinta, ujar Freya dalam hati.
Tanpa sadar air mata mengalir
membasahi pipinya.
Ini adalah malam kedua di kota
Tromso. Pertengahan bulan Oktober, awal musim dingin di Norwegia.
* * *
Hari berikutnya, Morten menjemputnya
di jam yang sama. Pukul delapan pagi.
Agenda mereka hari ini adalah
berkunjung ke Tromso Arctic Alpine Botanic Garden. Taman yang berisi koleksi
flora unik di Norwegia Utara. Di pertengahan Oktober seperti sekarang, musim
bunga tetap ada walaupun salju mulai turun.
Setelah taman botanik, mereka akan
mengunjungi Polaria. Sebuah museum yang didedikasikan untuk segala hal yang
berkaitan dengan Arktik.
Sore menjelang malam, Morten kembali
mengajak Freya melihat Aurora. Tapi kali ini mereka tidak akan mengunjungi
Sommaroy seperti kemarin. Mereka akan menaiki Fjellheisen, cable car yang
akan membawa mereka naik ke atas gunung Storsteinen.
Frekuensi keberangkatan Fjellheisen
adalah tiap setengah jam sekali. Jadi setelah membeli tiket, mereka harus
menunggu lebih dulu sampai jadwal selanjutnya.
Untuk sampai ke atas puncak,
dibutuhkan waktu sekitar empat menit. Sesampai di atas sana, pemandangan yang
terlihat adalah kota Tromso yang tampak secara menyeluruh. Selain pemandangan
kota, tampak pula gunung, pulau dan juga fjord.
Cantik. Tanpa sadar Freya bergumam.
Mendengar itu Morten berkata bahwa pemandangan Tromso dari atas gunung
Storsteinen akan lebih cantik saat musim panas. Sejauh mata memandang yang akan
tampak adalah hijau tumbuhan. Di sepanjang tepi jalan akan dipenuhi bunga-bunga
liar nan cantik dan berwarna-warni. Dan lebih banyak orang akan naik
Fjellheisen untuk menikmati Midnight Sun.
"Kau harus kembali kemari saat
musim panas. Kami tidak memiliki malam di bulan Mei hingga Juli. Bahkan jam dua
pagi pun terasa seperti siang. Tromso tidak pernah tidur saat musim
panas."
Kata-kata Morten membuat Freya
tertarik. Dia benar-benar ingin kembali lagi ke Tromso saat musim panas nanti.
Tapi sayangnya biaya wisata ke negeri orang Viking ini tidak bisa dibilang
murah. Jika Freya ingin kembali lagi, maka dia harus lebih rajin lagi menabung.
"Seandainya biaya untuk kemari
semurah harga pizza," Freya mendengus.
"Aku benar-benar ingin kau
kembali kemari Freya. Kau sangat menarik." Morten berkata serius.
Freya menolehkan kepala dan mendapati
Morten menatapnya intens. Untuk sesaat mereka sama-sama terdiam.
Apa dia baru saja memujiku? tanya Freya pada dirinya sendiri.
Morten kemudian tersenyum, lalu
memecah keheningan di antara mereka. "Mau sedikit berkeliling di sekitar
gunung?"
Freya mengangguk dan mencoba bersikap
masa bodoh dengan kata-kata Morten tadi.
Mereka menghabiskan waktu
berkeliling gunung Storsteinen sampai
tiba saat dimana Aurora menampakkan cahaya warna-warninya di atas kota Tromso.
Cahayanya lebih samar dari yang
kemarin terlihat di Sommaroy. Meski begitu, yang ini pun tidak kalah cantik.
Dan warna hijau lagi-lagi lebih mendominasi.
Freya senang bisa menghabiskan malam
ketiga sekaligus terakhirnya di Tromso dengan melihat aurora untuk yang kedua
kalinya. Dia sangat beruntung bisa melihat cahaya langit utara dua hari
berturut-turut di dua tempat berbeda.
Besok dia akan pulang dengan membawa
kenangan yang tak terlupakan.
Sekitar pukul setengah sepuluh malam,
akhirnya mereka turun dan kembali ke pusat kota. Morten mengantarkannya kembali
ke hotel.
Freya bermaksud akan turun dari mobil
saat tiba-tiba Morten mengungkapkan sesuatu.
"Kau sangat menyenangkan Freya.
Dan kau membuatku jatuh cinta. Seandainya saja kita bisa menghabiskan waktu
lebih lama lagi berdua."
Freya terkejut mendengar perkataan
Morten. Tangan Freya yang sudah berada di atas handle pintu mobil, tak
urung ditariknya lagi. Dia menatap Morten.
Sejak di gunung tadi, Freya mencoba
mengabaikan ucapan Morten sebelumnya, tapi kali ini dia justru berkata dengan
sangat gamblang.
"Kau akan pulang besok. Jadi
setidaknya aku ingin kau tahu apa yang aku rasakan selama bersamamu beberapa
hari ini."
Morten adalah pria muda yang tampan,
cerdas dan menyenangkan. Bohong jika Freya mengatakan dia tidak tertarik sama
sekali dengan pria di hadapannya ini. Bahkan saat pertama kali melihat Morten,
Freya tidak lupa bagaimana jantungnya berdebar kencang.
Namun, ungkapan cinta yang terlalu
tiba-tiba ini juga terdengar menakutkan untuk Freya. Bagaimana jika rasa yang
berkembang di antara keduanya hanyalah perasaan sesaat yang timbul dengan cepat
dan akan tenggelam dengan cepat pula.
Tidak. Freya tidak ingin perasaan
cinta yang terlalu singkat seperti itu.
"Aku merasa beruntung karena kau
menyukaiku, Morten. Aku pun menyukaimu. Sungguh. Tapi aku tidak tahu apa Tuhan
mempertemukan kita karena kita memang berjodoh satu sama lain."
"Aku tidak mau memiliki perasaan
yang hanya sesaat saja. Jika harus mencintai seseorang, aku ingin itu
berlangsung untuk selamanya."
Freya diam sesaat, menarik napas
pelan sebelum melanjutkan perkataannya.
"Jika kita benar-benar berjodoh.
Aku harap Tuhan akan mempertemukan kita kembali suatu saat nanti, masih dengan
perasaan suka yang sama. Jadi saat itu terjadi, baru aku akan yakin bahwa
kaulah pria yang ditakdirkan menjadi pendamping hidupku."
Freya merasa agak tidak enak hati
saat mengatakan semua itu, tapi semua yang diungkapkannya benar-benar apa yang
ada di hatinya saat ini. Dia menyukai Morten, sama seperti Morten menyukainya.
Tapi rasa suka itu belum tentu benar-benar cinta. Apalagi mereka baru bertemu
dan saling berinteraksi selama dua hari tiga malam kunjungan wisata Freya di
Tromso.
Morten tersenyum mendengar ucapan
panjang Freya. "Kau memang lain dari yang lain, Freya."
Entah kenapa Freya menangkap nada
bicara Morten yang justru terdengar senang.
"Naiklah ke kamarmu.
Penerbanganmu ke Oslo jam sembilan pagi besok. Jangan sampai kau terlambat
bangun," ujar Morten.
"Kau tidak marah karena
penolakanku?" tanya Freya penasaran.
Morten menggeleng dan tersenyum
lembut. "Aku justru suka dengan kata-katamu."
"Naiklah," sekali lagi
Morten meminta Freya untuk segera menuju kamar hotelnya dan beristirahat.
Kali ini Freya menurut. Ia keluar
dari mobil lalu berjalan memasuki hotel. Dan Morten pun melajukan mobilnya,
kembali ke rumah tempatnya tinggal.
Ini adalah malam ketiga di kota
Tromso. Pertengahan bulan Oktober, awal musim dingin di Norwegia.
* * *
Keesokan harinya, Freya terbangun
pukul setengah tujuh pagi. Segera ia bersiap dan menata semua barang-barangnya.
Setelah memastikan berulang kali tidak ada satupun barang miliknya yang
tertinggal di kamar hotel, Freya segera menuju lantai bawah untuk melakukan check
out.
Ternyata Morten sudah menantinya di
depan resepsionis.
"Aku akan mengantarmu ke bandara
Langnes," ujarnya.
Mereka berkendara dalam diam.
Tiba-tiba suasana menjadi canggung di antara keduanya.
"Kenapa kau tidak mengatakan
sesuatu?" tanya Morten memecah keheningan.
Freya menoleh, menatapnya sesaat
sebelum mengatakan, "Terima kasih untuk semuanya selama aku berada di Tromso."
Morten tertawa mendengar itu.
Tangannya lalu merogoh saku jaketnya. Mengeluarkan sebuah amplop berwarna biru
muda, lalu menyodorkannya pada Freya.
"Bacalah saat di pesawat
nanti," pintanya.
Freya meraih amplop itu dan
memasukkannya ke saku jaketnya sendiri. "Apa ini surat cinta?"
Morten hanya tersenyum tanpa
mengatakan apapun. Pandangannya fokus ke jalanan.
Sesampainya di bandara Langnes, Freya
segera turun dari mobil. Morten membantunya mengeluarkan semua tasnya. Setelah
itu, mereka saling mengucapkan perpisahan.
* * *
Freya memasang seatbelt dan menunggu
sampai pesawat lepas landas. Setelah pesawat mulai stabil di udara, Freya
segera merogoh saku jaketnya. Bermaksud membaca surat yang diberikan Morten
padanya saat di mobil tadi.
Freya,
Seperti namamu.
Kau adalah definisi dari cinta dan kecantikan itu sendiri.
Meski singkat,
tapi aku berharap semoga kau akan selalu mengingatku dan indahnya cahaya Aurora
di langit Tromso.
Seperti
kata-katamu, jika kita berjodoh, Tuhan akan menuntun kita untuk dapat bertemu
lagi.
Dan aku akan
sangat menantikan saat itu.
Semoga akulah pria
yang Tuhan pilih untuk menjadi pendamping hidupmu.
Pulanglah dengan
selamat. Semoga perjalananmu menyenangkan.
Salam cinta,
Morten.
Freya
tersenyum bahagia membaca surat itu. Ia mendekapnya dengan erat di dada. Dalam
hati ia berdoa, semoga Aurora Borealis, cahaya langit utara di Tromso adalah
jalan dari Tuhan untuk Freya agar dapat bertemu dengan cinta sejatinya.
Semoga kita benar berjodoh, Morten, ucap Freya dalam hati.

Comments
Post a Comment